Ucapan Selamat Tinggal Dengan Baik

Ketika kamu mengatakan kamu ingin pergi, dan memang akan pergi, aku memintamu untuk mengucapkan selamat tinggal dengan baik.

Sebagai teman, aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja, tanpa meninggalkan kenangan manis di tengah orang-orang yang kamu cintai. Meskipun kamu bilang mungkin kamu hanya ingin pergi sebentar lalu kembali, bagaimana kalau lebih lama? Bagaimana kalau satu atau dua orang yang kamu tinggalkan di sini pergi sebelum kamu pulang? Kamu pun sadar dengan hal itu.

Kepergianmu tidak harus dirahasiakan, kataku. Ini kan kebahagiaan, mimpimu adalah kebahagiaan. Lalu kenapa kamu tidak merayakannya? Pastinya bukan denganku saja, tapi dengan semua orang yang biasanya ada di keseharianmu. Aku, tidak ada dalam keseharianmu, jadi tak ada alasan untuk bilang hanya dengan menyampaikan ucapan selamat tinggal padaku saja sudah cukup. Itu tidak cukup. Kamu pun tahu itu.

Aku tak perlu ikut, katamu. Aku tersenyum dan mengerti. Bagaimana pun kamu punya kehidupan lain di mana aku tidak ada di dalamnya, bukan? Mengucapkan selamat tinggal padamu dengan begini pun cukup. Hanya ada kita. Kita jarang merasakan waktu di mana hanya ada aku dan kau, selain malam ini, nanti-nanti mungkin tidak ada lagi.

Izinkan aku merasa bahagia atas kepergianmu, yang berarti selangkah lebih dekat menuju mimpimu.

Izinkan aku untuk tersenyum yakin bahwa ini adalah yang terbaik. Dan izinkan aku untuk mengenang dengan manis setiap hal yang kita lakukan bersama meski sebentar. Karena nanti-nanti belum tentu.

Izinkan aku merasa istimewa, karena perpisahan kita buat dengan cara yang berbeda dan hanya melibatkan kita berdua. Ada senyum, canda, tawa, dialog, dan mengutarakan angan. Dengan begitu paling tidak aku tahu yang terjadi padamu, begitu juga sebaliknya, sebelum kamu pergi.

Dan aku tidak ingin memikirkan apa yang kelak terjadi di masa depan. Kita bertemu lagi atau tidak, jadi apa atau bagaimana. Hari ini ya hari ini. Dan sekali lagi, ucapkanlah selamat tinggal dengan baik pada orang-orang yang kamu cintai sebelum pergi.

Bagaimanapun,

Kelak kau akan kembali kan?

A message from Anonymous
How do u stay positive??
A reply from ree-az

By remembering “Verily, along with every hardship is relief” (94:5)

Japan : Pertanyaan Tentang Komitmen pada Tuhan, Jawaban yang Saya Berikan, Pembelajaran, dan Toleransi

Banyak orang bilang, pentingnya toleransi itu baru bisa benar-benar kamu rasakan ketika kamu jadi minoritas. Perbedaan itu benar-benar kamu sadari ketika ada satu waktu di mana kamu benar-benar beda sendiri. Meskipun di SabangMerauke saya sudah banyaaak sekali mendapat pengalaman berharga tentang toleransi, saya akui bahwa saya lebih banyak belajar selama perjalanan pendek ke Jepang di bulan Agustus lalu. Terutama bagaimana saya mengenal diri saya dan komitmen-komitmen yang saya buat…dengan Tuhan. Lebih ke sisi filosofis, bagaimana saya bijak pada diri sendiri serta orang lain mengenai alasan-alasan saya mengambil komitmen, dan penilaian saya untuk orang lain yang tidak mengambil komitmen seperti saya.

Sebagai satu-satunya orang Indonesia, dan juga satu-satunya muslim (plus pakai kerudung) di antara puluhan participants dari berbagai negara, tentu saya dapat ‘perhatian khusus’ dari banyak pihak. Bentuk ‘perhatian khusus’ itu terutama soal makanan dan waktu ibadah. Sedangkan dari sesama participants, bentuk ‘perhatian khusus’ yang tidak mungkin saya lupakan adalah segudang pertanyaan soal ‘ini’ (menunjuk kerudung di kepala saya) dan ‘ini’ (memeragakan sedikit gerakan shalat).

Sejak punya rencana berangkat, saya sudah menyiapkan diri untuk menjawab pertanyaan yang kira-kira keluar dari orang yang akan saya temui di Jepang. Tapi saya nggak menyangka bahwa sampai sana saya di’bombardir’ sampai kadang bingung mau ngomong apa lagi. Wajar mungkin, mereka jarang sekali menemukan orang ‘seperti saya’. Untuk pertama kalinya saya merasa bahwa saya ini ‘makhluk langka’. Hehe.

Setiap ada kesempatan untuk mengobrol, baik itu di hotel saat sarapan, di bus, di jalan, di kelas, dan saat makan malam, ada saja teman yang menghampiri untuk sekedar mencari jawaban dari..

“Shelly, kenapa kamu memakai ‘itu’ (kerudung)?”

“Apa orang Indonesia banyak yang memakai kerudung seperti kamu?”

“Shelly, kenapa kamu tidak memakai cadar?”

“Seperti apa pakaian orang Islam? Apa harus seperti itu?”

“Panas nggak kerudungnya? Kalau summer apa sebaiknya dilepas saja?”

“Aku punya teman yang Islam juga, kenapa dia tidak berkerudung?”

“Kenapa Tuhan kamu melarang makan babi? Babi kan enak. Di Indonesia kamu makan apa?”

“Kenapa kamu nggak boleh minum alkohol? Kamu harus coba sedikit saja, nggak bikin mabuk kan.”

“Dari beberapa program yang aku tonton, di negara lain, muslim ada yang tetap minum alkohol. Kenapa kamu tidak?”

Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang membuat saya berpikir, kadang sukses bikin saya bengong, awkward atau merasa disodori pertanyaan absurd. Jika saya jawab asal, tentu mereka makin bertanya, bersyukur, saya percaya pada pandangan diri sendiri. Jadi jawaban yang saya berikan adalah jawaban yang didasari keyakinan saya –maaf kalau jauh dari sempurna-.

Saya jelaskan ketentuan menutup aurat itu ada dalam kitab suci umat Islam, Al-Quran. Dan menutup aurat bukan budaya arab, itu kewajiban umat. Budaya hanya mempengaruhi cara umat menutup aurat. Saya beri contoh, umat Islam terutama perempuan berkerudung, di seluruh dunia tentu memiliki gaya menutup aurat dan memakai kerudung yang berbeda. Di Indonesia, saya bilang, mereka akan bertemu banyak sekali wanita berkerudung, tentu gaya berkerudungnya pun berbeda-beda. Tapi, mereka sama-sama ingin lebih dekat dengan mematuhi perintah Tuhan. Soal cadar, saya jawab sepengetahuan saya, dalam Al Quran, aurat wanita itu adalah selain muka dan telapak tangan. Jadi saya berkaos kaki tapi tidak bercadar.

Saya jelaskan cara berpakaian yang utama adalah tidak tipis dan menerawang serta tidak menunjukkan lekuk tubuh. Saya malu sih jawabnya, jujur. Hehe. Terutama karena saya suka pakai jeans. Jadi saya bilang pada mereka, saya sedang berproses, sebagai contoh, dulu baju saya pendek, sekarang selalu menutup pinggul. Saya katakan, kita harus menghargai proses setiap orang agama apapun untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

Saya bersikeras pakai kerudung itu nggak panas –lah, memang nggak panas, asli-, saya izinkan mereka memegang kerudung saya sambil bilang, bahannya ringan kan? ini tidak panas dan tidak menerawang, supaya aman saya pakai inner untuk kepala. Menutup aurat adalah bentuk komitmen pada Tuhan. Melanggar komitmen dengan pasanganmu saja, kamu takut dia tersinggung. Kalau melanggar komitmen dengan Tuhan, bagaimana hayo? tanya saya balik ke teman yang nanya.

Soal perempuan muslim tapi belum menutup aurat, saya serba salah jawabnya. Lagi-lagi saya jawab, seperti di kehidupan sehari-hari, si A menolak cinta si B karena A belum siap berkomitmen dengan B. Nah, beberapa perempuan muslim belum menutup aurat dan memakai kerudung karena belum siap berkomitmen dengan Tuhannya. Saya sih nggak bisa apa-apa selain mengingatkan dan mendoakan, karena komitmen datang dari pribadi masing-masing.

Babi diharamkan tentu ada alasannya. Tuhan menjaga saya dari bahaya yang ada di babi. Sederhananya, kamu tahu kan babi itu gudang sumber penyakit seperti cacing pita, cacing spiral dan swine flu. Babi juga penuh lemak, dagingnya terkontaminasi kotorannya sendiri, cara hidup babi itu buruk dan jorok. Tahu kan, tahu kan? Teman saya yang bertanya tertawa terbahak, dia bilang apa yang saya bilang semua benar, tapi karena terbiasa, dia nggak bisa lepas dari makanan babi. Saya sih nggak masalah, asal bukan saya yang makan. He.

Tapi saya bersyukur tinggal di Indonesia, di mana saya bisa makan daging ayam, sapi, kambing dan ikan dengan mudah. Jadi secara tidak langsung, terbiasakan nggak lihat makanan dengan daging babi. Kalau saya hidup di…negara lain yang daging pokoknya babi, wah, kewalahan kayaknya. Makasih Allah :’).

Soal alkohol, saya mantap bahwa alasan utama haramnya itu adalah memabukkan, dan merusak kesehatan. Sedikit atau banyak, hal haram itu haram. Soal orang islam yang minum alkohol –meski cuma buat ‘cheers’ atau ‘kampai’-, saya jelaskan dengan “Kamu tahu kan, selalu ada murid yang tidak patuh pada gurunya dalam beberapa hal. Murid itu bukan anak yang buruk, dia cuma sedikit bandel. Nah, umat beragama juga, layaknya murid, kadang bandel sama Tuhannya. Saya juga kadang bandel kok, tapi bukan masalah alkohol sama makan daging babi.” Ucap saya sambil nyengir. Mereka tanya kalau kedinginan saya minum apa, karena kalau mereka terbiasa minum alkohol, saya bilang aja saya minum susu jahe, persis seperti yang diajarkan ayah sama saya dari kecil. Hehehe.

Rasanya lega setelah bikin teman ber’ooh’ dan nggak mencecar. Saya berusaha menjelaskan dengan baik tanpa menyinggung mereka. Niat saya adalah, menunjukkan bahwa Islam itu baik, saya juga baik. Sekaligus menguji saya sendiri sejauh mana bisa menjelaskan secara logis (padahal nggak semua hal bisa dijelaskan dengan logis ya, tapi apa mau dikata, mereka orangnya apa-apa harus diterima logika). Saya berusaha menunjukkan bahwa saya teguh, tanpa mengganggu hak orang. Seperti…waktu kami semua diagendakan pergi minum bir, saya ikut kok, tapi minum cola. Saya nggak punya masalah sama mereka yang minum bir dan makan babi.

“Apa semua orang di Indonesia beragama? Kalau kami, umm.. rasanya tidak. Kami nggak punya agama. Vietnamese, Chinese, Korean, Japanese, kebanyakan nggak punya agama, Shel. Vietnam dan Cina terutama, kami komunis. Tapi kami nggak ganggu ibadah kamu kan ya selama ini. Apa kamu masalah dengan hal tersebut?”

Saya menggeleng sambil tersenyum, tidak. Tidak masalah sama sekali. Lakum diinukum waliyadiin, ujar saya dalam hati. Kami saling melempar senyum di meja makan, kemudian melanjutkan makan malam bersama yang terakhir kali sebelum pulang ke negara masing-masing. Saya yakin, ada perasaan hangat menjalar dalam masing-masing diri kami, tergambar dari rona muka yang ceria dan tentram. Saya banyak belajar dan.. sekali lagi, toleransi itu indah.

ps: semoga tulisan ini memberi manfaat :)

Shake It Off
Taylor Swift

musicjubilee:

Shake It Off - Taylor Swift

Japan : Kineyamugimaru, Halal Udon @ Narita Aiport

Cari makanan label halal di Jepang memang cukup susah ya. Mau ngemil atau makan nggak bisa asal comot atau asal tunjuk seperti di Indonesia, salah-salah ada kandungan babinya atau bahannya ditambah mirin. Bahaya. Saya jujur takut sesuatu yang haram masuk ke tubuh saya tanpa saya sengaja.

Ada tempat asik yang saya temukan di Bandara Narita, sebuah restoran udon, namanya Kineyamugimaru, letaknya di 5th floor Terminal 1. Dari luar kelihatannya biasa saja. Tapi kalau mendekat sedikit ke kaca dapurnya, tadaaa… ada label halalnya, tertulis “Certified by Malaysia Halal Consultancy & Training Agency”. Asyiik. Saya dapat rekomendasi ini dari www.halalmedia.jp. Dan sebagai penggemar kuliner saya memang bertekad mampir.

Kegirangan melihat ada restoran halal dan karena belum makan siang pula, -sementara waktu penjemputan masih dua jam lagi-, saya pun masuk dalam antrian dan melihat-lihat menu yang dipajang. Hari itu pas jam makan siang dan penuh banget restonya, eh pas liat saya pelayannya senyum ramah sambil ngomong bahasa jepang panjang lebar ke saya. Dengan bahasa jepang yang ngepas, saya bilang saya nggak ngerti, haha. Lalu pelayan itu bilang lagi sambil senyum “you can eat all of them, all halal”, ah baiknya. Menunya dalam bahasa jepang, inggris, korea, dan mandarin, jadi saya tahu apa yang saya pesan, nggak cuma sekedar tunjuk. Akhirnya saya memesan seporsi udon, tempura chikuwa (sosis ikan), dan sebuah salmon onigiri. Saya nggak makan semua dalam satu waktu kok, onigirinya sengaja saya bawa kalau-kalau kelaparan pas perjalanan ke Sendai.  

Menu yang saya pesan menghabiskan sekitar 900 Yen ( 1 Yen = 115 rupiah), lumayan mahal ya. Tapi langsung nggak kaget karena tahu di luar sana banyak yang lebih mahal. Jadi bagi saya saat itu 700-1000 Yen adalah batas wajar makan di Jepang. Hehe. Saya kaget karena porsinya banyak banget. Tapi lirik kanan kiri, orang jepang makannya kok lahap, cepat, habis pula. Perut saya kayaknya nggak muat, tapi merasa bersalah kalau nggak habis. Udon-nya enak parah, dan fresh dibuat di dapur mereka sendiri.

Senangnya, saya kebagian duduk di dekat jendela dimana di luar adalah deck, jadi bisa lihat pesawat take off dari jendela sambil menikmati udon. Alhamdulillah. Makan siang pertama saya di Jepang ini cukup mengesankan. Mungkin nanti saya balik makan sini lagi.

ps: foto pertama diambil dari sini, sisanya dari kamera saya ;D

Japan : First Impression

Jepang sedang ada di penghujung Summer ketika saya menginjakkan kaki di tanahnya. Entah, rasanya bercampur jadi satu ketika saya tiba. Senang karena punya kesempatan plus semua biaya ditanggung penyelenggara, bingung karena bahasa jepang saya super pas-pasan, excited karena bakal ngunjungin universitas yang diinginkan, nervous ketemu orang yang selama ini cuma ketemu by e-mail, sekaligus mellow karena saya tahu saya nggak akan lama di sini.

Dari awal saya tiba, saya sudah merasakan bahwa orang-orang di sini berbeda. Mereka super baik! Petugas airservice yang menyambut saya ngajak saya ngobrol, berusaha membuat saya nyaman, membantu saya yang kerepotan dengan bagasi yang 24 kg (nanti tahu deh kenapa bagasi saya gede), plus orang-orang dengan ramah membantu saya meski bahasa inggrisnya ngebingungin.

Dari pengamatan singkat saya, orang Jepang itu ritmenya cepat, terutama saat jalan, lumayan bikin saya kewalahan menyamakan langkah. Mereka pun super tepat waktu. Alhamdulillah selama di Jepang saya belum pernah kena tegur karena telat, temen saya ada yang pernah, hehe. Terus mereka bukan tipe orang yang suka ‘ngelihatin orang sampai segitunya’, mereka cenderung cuek dan nggak menggunjingkan orang. Tapi mereka helpful, sopan, dan ramah banget, nggak segan menolong orang yang kebingungan, kerepotan, bahkan nyasar.

Di Jepang nggak ada barang palsu, semua barang asli. Harga barang made in japan lebih tinggi dari made in luar (misal : china). Dan ternyata harga barang tertentu di seluruh jepang sama, (misal : harga satu box Kitkat dimana pun adalah 1652 yen, begitu pun di bandara). Jadi harga nggak pernah bohong dan nggak ada istilah beli kemahalan (kapan ya Indonesia bisa kayak gini?).

Bicara tentang Sendai, kota yang disebut sebagai Mori no Miyako (The city of trees) dan dijuluk Japan’s verdant avenue to the north ini memang sangat hijau. Sepanjang jalan saya bisa lihat pohon, pohon, pohon lagi. Pohon yang terkenal adalah Zelkova Trees. Katanya keren banget pemandangannya kalau Autumn dan Spring. Kotanya bersih banget, padahal tempat sampah jarang (??), nggak terlalu penuh kayak Tokyo tapi nyaman dan ramai juga. Fasilitas pejalan kaki super nyaman, trotoar luas, bisa dipakai guling-guling kayaknya (haha), ruang terbuka cukup banyak, dan yang saya suka adalah kampus Tohoku Uni yang ‘hijau’. Pembangunan dipusatkan di downtown dan sisi kota masih sangat asri, enak dipake sepedaan kayaknya. Di pandangan saya, kotanya kayak Bandung versi Jepang (entah kenapa kayaknya mirip, perasaan nyaman sama seperti saya tinggal di Bandung. Tapi saya ingin kelak Bandung bisa seperti Sendai).

Satu hal yang sangat berkesan, orang jepang memiliki toleransi terhadap perbedaan yang amat tinggi. Selama saya ikut program Alhamdulillah saya nggak merasa kesulitan sama makanan dan waktu shalat. Saya berani bilang, lingkungan mereka – terutama Sendai, tempat saya ikut program- lebih islami dibanding negara yang mayoritas penduduknya islam, entah kenapa sangat tentram.

Alhamdulillah atas kesempatan ini.

Izinkan saya kembali lagi ya Allah. Maukah Kau menjodohkanku dengan kota ini?

sinsatnight:

:| op We Heart It

So, distance is nothing :)

sinsatnight:

:| op We Heart It

So, distance is nothing :)

Jadi Seperti yang Kamu Mau

Hai! Apa kabar? :)

Kamu tahu, selama ini  manusia sering kali saling iri melihat kehidupan satu sama lain. Kemudian mereka mulai membanding-bandingkan hidup mereka dengan hidup orang lain. Setelah itu mereka mulai membahas “kenapa dulu tak begini..”, “kenapa dulu tak begitu..”, “harusnya dulu aku pilih ini..” dan lainnya..

Padahal, sudah seharusnya kita tidak membandingkan hidup kita dengan orang lain, bukan? It’s not a new saying. Tidak adil membandingkan hidup kamu hari ini dengan hidup orang lain hari ini. Because back to the past, all of you went along different ways, different struggle, different efforts..

Seringkali kita sadar bahwa kita overexpected terhadap suatu hal ketika kita mendapatkannya. Mungkin kamu bisa mendapatkan pelajaran dari pengalaman ini. Bahwa tidak selamanya realita itu sesuai dengan kita bayangkan.

Kamu bilang kamu ingin ini, ingin itu di tempat yang sekarang, tapi kamu tidak mendapatkannya. Sedikit banyak kamu menyesal ketika tidak menemukan yang kamu cari…

Padahal, tahukah kamu, banyak orang yang ingin ada di posisimu. Banyak orang yang ingin menjadi kamu..

Aku ingin membuatmu yakin bahwa kamu hanya butuh waktu untuk menerima. Kamu hanya butuh waktu untuk terbiasa, dan kamu hanya butuh sebuah momentum untuk menguatkan usaha. Bagaimanapun aku ingin kamu tetap bahagia dan untuk itu aku hanya ingin bilang (1) Show your gratitude. (2) Lower your expectation. (3) Change your way of thinking. (4) Change things you can change, be flexible with things you can’t change and live the better life.

Kamu akan survive, kamu akan merubah dunia, kamu akan berkembang.

You are different, you can stand out from the crowd. I believe that, and you ought to believe that too…

Bandung, 2 September 2014

Atas respon cerita bulan Juli, aku menulis ini.

Untuk temanku yang baik, jadilah seperti yang kamu mau :)

Tuhan Memang Penuh Kejutan

Siapa sangka, ketika saya tidak berharap terlalu banyak, dan ketika satu persatu jalan harapan tertutup, Tuhan memberikan kejutan yang indah.

Bulan Juli 2014, Ramadhan, berkali-kali telepon berdering mencoba menghubungi saya. Sayangnya ketika itu saya sedang sibuk dengan IBO 2014 dan ponsel saya silent.

Malam harinya telepon kembali berdering, nomor asing, ketika saya angkat, ternyata orang Jepang, memberi kabar bahwa saya diikutsertakan dalam program Sakura Science 2014, sebuah summer program selama 10 hari untuk mahasiswa dan young researcher yang didanai Japan Science and Technology. Aoyama-san, sang penelepon, dengan cepat meminta saya segera mengirimkan data diri untuk keperluan visa, pemesanan tiket dll. Semua ditanggung penyelenggara.

Pengurusan program, tiket, serta visa berjalan begitu cepat. Dan sebulan kemudian saya menempuh jarak tempuh udara terpanjang selama saya hidup, sendirian, ke sebuah negeri asing yang diimpikan sejak lama.

Program dilaksanakan di Sendai, di Graduate School of Medicine Tohoku University, dan Lab yang akan saya kunjungi adalah Lab di mana saya diterima program Master awal tahun lalu. Profesor yang bertanggung jawab atas saya selama program adalah Profesor yang namanya tertulis dalam Letter of Acceptance saya sebagai calon supervisor untuk program Master.

Selama menunggu penjemputan di Bandara Narita saya merenung,

Saat saya akhirnya memutuskan untuk tidak mendaftar kuliah Oktober ini, saya kira saya tidak akan bisa datang ke Sendai. Saya kira saya tidak bisa melihat kampus yang saya impikan, profesor yang saya kagumi, senpai yang membantu saya dari jauh. Saya kira saya tidak akan bisa merasakan semua itu.

Tapi ternyata Tuhan memberikan saya nikmat, menghibur saya, menghadiahkan kesempatan yang begitu berharga. Meski hanya sebentar, saya sangat bahagia. Saya bersyukur.

Saya banyak belajar baik itu dalam lingkup akademik maupun kehidupan sehari-hari. Saya menemukan jawaban beberapa pertanyaan yang selama ini ada di pikiran saya. Dan berkah lainnya, saya merasakan toleransi yang luar biasa selama 10 hari tersebut. Misi kecil-kecilan yakni menjadi agen muslim yang baik dan nggak malu-maluin di negeri orang bisa dibilang tercapai, Alhamdulillah.

Kembali terbukti : Rencana manusia memang tidak ada apa-apanya dibanding rencana Tuhan. Ketika rencanamu tidak terwujud, percayalah Tuhan punya kejutan dan rencana terbaik. Percaya.

InsyaaAllah, I have faith on You.